Meningkatkan pengelolaan laut yang dipimpin oleh masyarakat adat
Pulau Roon dan sekitarnya, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Teluk Cenderawasih, merupakan kawasan konservasi laut terbesar di Indonesia. Pulau ini memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, termasuk hiu paus, duyung, dan hampir 1.000 spesies ikan. Terlepas dari kekayaan ini, sumber daya pengelolaan yang terbatas, manajemen perikanan yang tidak memadai, dan sedikitnya pilihan mata pencaharian mengancam ekosistem dan 2.500 penduduk pesisir yang bergantung pada mereka. Perempuan, meskipun aktif dalam pemanfaatan sumber daya laut, masih kurang terwakili dalam pengambilan keputusan.
Proyek yang berfokus pada perempuan ini akan mempromosikan kesetaraan gender dalam konservasi laut sekaligus memperkuat pengelolaan laut yang dipimpin oleh masyarakat adat dan ketahanan ekonomi di Pulau Roon. Proyek ini akan mendukung inisiatif yang dipimpin oleh perempuan dalam konservasi, budidaya rumput laut, dan ekowisata, sekaligus memperkuat Kawasan Laut yang Dikelola Secara Lokal (LMMA) seluas 394.000 hektare melalui praktik-praktik tradisional seperti penutupan kadup.
Proyek ini akan melibatkan 1.000 anggota suku asli Roon (40% dari populasi pulau), termasuk 360 perempuan (30%) dari lima desa. Laki-laki dan pemuda juga akan dilibatkan sebagai mitra untuk mendorong inklusivitas.
Pemantauan dan penegakan hukum berbasis masyarakat akan dibangun atau ditingkatkan melalui kemitraan dengan para pemangku kepentingan dan pemimpin masyarakat adat. Dengan mengaitkan inklusi gender, perlindungan keanekaragaman hayati, dan peningkatan pendapatan, proyek ini bertujuan untuk membangun ketahanan ekologi dan sosial jangka panjang di masyarakat pesisir.
Organisasi mitra: Fauna & Flora International
Sumber gambar: Yayasan Pengelolaan Lokal Kawasan Laut Indonesia

